Thursday, October 19, 2006

Friday, October 13, 2006

Gagal Sekali Lagi.

“Ada tiket menuju ke puncak?” suara nyaring konduktor bertanya.
“Ada.”
“Oh... tiket ini tidak melayakkan kamu ke puncak!” suara sinis si konduktor menerjah-nerjah gegendang telinga

Hari ini dia ketinggalan lagi
Platfom 1 itu sudah tertutup
Hari ini sama seperti semalam
Dia ketinggalan bas menuju ke puncak
Diam-diam dia menangis
Tiada siapa yang tahu

Sepasang mata bundar putera dan puteri
Jernih menatap naif
Tangan-tangan halus menarik-narik manja
Menagih seribu harapan
Yang semakin pudar

Kali ini dia melangkah
Menjauh dari platfom 1
Pergi sebagai petualang yang meresahkan
Sambil memimpin putera dan puteri

Kaki kanan memulakan langkah
Bismillahirrahmanirrahim
Semoga di platfom 2 masih ada kekosongan

Dia percaya
Jalan menuju puncak masih terbuka
Sepasang mata bundar putera dan puteri
Jernih menatap naif
Penuh pengharapan


Tuesday, October 10, 2006

Hubaya-hubaya

Jangan dekati bom berangkai itu.
Jangan cari nahas!
Ia bakal meledak bila-bila masa.
Sumpah!
Bom berangkai itu tidak akan kudekati lagi.
Aku serik!
Tika pertama kali ia meledak di sisi ku,
Puing-puing kaca dan besi bertebaran,
Sipi-sipi merenggut degup nadi,
Dan semangatku hampir punah berderai.
Sumpah ia tidak mungkin kudekati lagi!